Le Monde Me Change
En Me Changerai
Je Change Le Monde
   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, February 02, 2007
eritis sicut dei

selesai


Posted at Friday, February 02, 2007 by litost
Make a comment  

Monday, January 29, 2007
tentang folder lama yang terbuka satu per satu

Kata B, kepalaku tampak berdenyutdenyut.Dia berdiri di belakangku. Mempermainkan kepala yang baru saja plontos lagi, sementara saya menggeremeng di depan komputer. Mungkin benar, sialnya, sepertinya dia lebih banyak berdenyut bukan untuk diriku sendiri.

Di jakarta kemarin, bertemu papi dan sahabat, mereka hanya butuh kurang dari 15 menit untuk mengatakan kesimpulan mereka: kamu sudah capek ya hidup di Jogja? Iya! Sialnya lagi, saya tidak pernah benarbenar menyukai kota lain. Setidaknya di Indonesia, sesuai dengan kemampuan ekonomi saya. 

Sebulan kemarin, seorang kawan yang berkunjung dari bandung bercerita. Dia selalu menyempatkan ke jogja sebulan sekali. Menikmati perjalanan kereta, menginap di hotel murah dan berkeliling kota dengan sepeda bekas yang dibeli dan dititipkannya entah dimana. Mendengar ceritanya, saya akhirnya bertukar kisah. Saya juga selalu ke jakarta ketika merasa ada yang tidak beres, hanya untuk mencuri waktu orangorang dekat dan kemudian pulang dengan kesyukuran bahwa kota saya memberi waktu yang melimpah dan menjadikannya jauh dari mewah. Ironis, tapi mau apa lagi.

Pernah suatu pagi, saya bangun dan langsung menodong seorang teman untuk piknik. Teman yang ini, kurang lebih sama saja dengan saya. Bertahuntahun menunda kepulangannya, karena merasa tidak bisa hidup di tanah kelahirannya. Padahal kalau boleh bilang, dia orang bali paling bali yang saya tahu. Tetap saja, ketika sampai pada urusan keterikatan geografik, romantisme dan realita tibatiba berjalan ke arah yang berbeda. Kembali ke soal piknik, sejak dari selatan sampai ujung utara jogja, saya masih saja bertemu orang yang saya kenal. Atau mengenali saya. Dan menyapa. Sial! Si teman berkata, melihat kamu saya masih merasa lebih beruntung. Paling tidak, saya selalu bisa lari ke utara kalau tidak mau terjebak pembicaraan seni. Saya hanya bisa cemberut.

Beberapa hari kemarin, sepertinya saya bertemu obat anti cemberut. Iya, saya bertemu orang lagi, seseorang dari hidden files. Folder lama. Sesuatu yang membawa saya pada pemahaman (dan harapan) baru. Mungkin saya hanya harus belajar bertahan, bukan hit and run seperti yang selama ini saya lakukan.

Malam ini, dengan red wine dan gerimis di soboman, saya mendengarkan lagulagu pengisi Badai Pasti Berlalu, tentu saja versi asli dengan aransemen langsung eros jarot. Begitu megah, begitu mendalam. Menemani saya menatap fotofotnya, hasil penelusuran google malam kemarin. Sebuah entry dalam blog pribadinya bicara tentang betapa muaknya dia, sekaligus betapa dia heran mengapa belum pernah punya keinginan untuk mati. Hanya ingin mencari jalan yang lain. Katanya, kalau segalanya menjadi terlalu busuk, coba saja untuk jadi anak band. Cara yang paling menyedihkan untuk mempermalukan diri dan terlihat keren. Tapi paling tidak, ini masih kata dia, anak band selalu bisa meniduri fansnya. Haha... rock and roll no longer a music anymore. They just rolling and rolling, but forget to rock. seperti juga saya, yang berlompatan di antara berbagai folder dan direktori yang saya punya.

Tentang Badai Pasti Berlalu, film itu adalah gambaran epos percintaan yang paling utuh dan dahsyat yang pernah saya punya. bahkan walau bersanding dengan annie hall. bagi Babi Ungu, dalam perjumpaan kemarin, ia bahkan menyejajarkan dosa pembuatan kembali film itu dengna upaya menulis ulang kitab suci.  

ah,

Saya memang belum punya epos, tapi beberapa tempat persinggahan yang nyaman sudah saya alami. Dan bagi platonis bungkuk seperti saya, semua ini sudahlah cukup melegakan.

Menikmati beberapa fotonya, ada satu yang selalu sama. Sesuatu yang selalu memberi kesan mengajak saya untuk terus hidup. Optimisme tanpa cangkokan, bara yang terjaga panasnya.

 

Bapak pasar minggu, kapan kita mewujudkan yang kapankapan itu?

 

 


Posted at Monday, January 29, 2007 by litost
Make a comment  

Sunday, January 14, 2007
begitulah, yah..yah

Sedih itu ada ketika pagi. Bangun dan menikmati kopi sendirian.  Memikirkan playlist apa yang akan mengawali hari seandainya kamu masih ada disini.  

 

Sedih itu ada ketika mengunjugi keramaian dan kamu tidak ada disana. Tidak lagi menjadi soal kamu datang dengan siapa, rasanya, melihat kamu terlibat saja sudah dapat mengobati banyak hal.

 

Hari ini, hari pertama kamu tidak lagi ada di dunia yang kualami, dan my boy lolipop adalah lagu yang tak kunjung usai di telingaku. Selamat memiliki harihari sederhanamu kembali... semoga. A painting that we’ve already painted in each…

 


Posted at Sunday, January 14, 2007 by litost
Make a comment  

Tuesday, January 02, 2007
membangun ..............hood,

saya langsung heboh tak karuan ketika melihat iklan tayang Young Guns II di tv. kegiatan mencari gudeg sebagai suplemen ngecat langsung masuk folder "ditimbang ulang".  pertama kali menonton Young Guns, saya hanya tahu kalau bon jovi akan nongol disana,biarpun hanya sebentaaaaaaaaaaaar banget. banyak yang gak ngeh malahan. tapi yang saya dapat, jauh lebih dari itu. film itu membuat saya berharihari berpikir tentang lingkaran emosional dalam pertemanan lakilaki, brotherhood. indah sekali! segera, ia menjadi cermin untuk elida kecil yang sedang  belajar membangun relasi pertemanan yang lebih serius. bukan lagi sekedar kawan mencuri mangga atau balap tamiya. hal yng sama juga pelanpelan coba saya mulai dalam menghadapi ketiga kakak lakilakiku.

I wonder what would have happened
If you were the killer
And I was the hero
Would things be the same
Or would I have traded
Your life for my own life
Would I have paid
Your debts in your place
But this ain't about me, this ain't about you
Or the good and the bad times we've both been through
When the lines between brothers and justice have changed
You do what you've got to cause you can't walk away
Blood Money
Bought and then sold you
But your conscience is all you can take to your grave
(Blood Money,Bon Jovi)


akhir tahun ini,sepertinya saya memang benarbenar diajar untuk bercermin pada
relasirelasi yang ada di sekitar saya. saat kangen dengan suasana natal keluarga, saya malah "terjebak" dengan reuni band sma kakak pertama. jangan tanya bagaimana rasanya: lagu, kekonyolan, candaan yang tepat sama seperti 20 tahun lalu. hanya kualitas minuman yang berubah. asyiknya, lagilagi saya ada disana, sebagi penyaksi. sebagai elida dengan singlet yang terusmenerus merengek minta dipangku dengan elida yang selalu memegang gelas, saya mampu merasakan kenyamanan yang sama.

harihari dengan bencong deli, suami darurat, kurcaci keriting, F9,  punya warna warninya sendiri.

malam ini suami baikhati ku itu bahkan menyusul ke soboman untuk membalas korespondensi sms kami sejak sore. topik lama yang belum juga selesai. eskapis dari diri, tanpa pernah tahu yang mana sebenarnya diri sejati itu. sejati? sudahlah sri!
suami darurat berkata, dirimu adalah yang tampak di cermin, dirimu adalah patricia elida tamalagi. tanpa berbagai rumbai disekitarnya. ketika kujawab bahwa itu bergantung pada siapa yang akan memegang cermin bagiku, ia muncul di halaman belakang 20 menit kemudian. katanya : saya, jika sedang tidak sibuk disakiti lakilaki.


wow!

hal yang kurang lebih sama ketika saya menatap lingkaran 80'an di halaman rumput suwage malam tahun baru kemarin. bersama bu Ditt, ari gendut, lampung, dan my boy lollipop, saya mengingkari niat besar untuk menghabiskan malam sendiri sambil mengecat kamar. tapi momen tahun 2007 sebenarnya terjadi di jalan sepanjang kinoki menuju studio ngadinegaran. satu lagu lama muncul begitu saja dari kepala tak berguna ini

Thank you
For teaching me how to feel

Showing me my emotions
Letting me know what's real
From what is not
What I've got is more that I'd ever hoped for
And a lot of what I hope for is
thanks to you

For teaching me how to live
Putting things in perspective
Teaching me how to give
And how to take
No mistake
We were put here together
(thanks to you,Tyler Collins)

untuk semua relasi yang mengiringiku berjalan sepanjang tahun yang lewat, semoga senantiasa berlanjut di tahun yang menghadang. 2007, beat me if you can!




Posted at Tuesday, January 02, 2007 by litost
Make a comment  

Tuesday, December 19, 2006
mitos yang belum juga selesai

Hey, siapa pun kamu...terima kasih dengan apa yang telah kamu berikan kepadaku Walaupun itu masih berupa imel dan sebongkah puisi dari gumpalan karya-karya pablo neruda. Kebetulan aku menyukai karya-karyanya. Terima kasih sekali.

 

Namun, menurutku ini seperti dalam film saja...maksudku kita hidup di dunia materil dan nyata, sementara cara yang kamu coba sedang lakukan ini adalah oppossite dari semuanya. Ini maya! Apa kamu memang senang dengan hal yang seperti ini? Maya? Satu dunia yang penuh dengan tebakan dan ketidakjelasan? Kalaupun jelas, itu sudah di set/atur sedemikian rupa seperti dalam sebuah game PS. Sehingga kalau aku, atau kamu yang kalah, itu tidak akan terlalu mengecewakan.

 

Sungguh unik apa yang sedang kamu lakukan ini. Kamu menikmati? Kamu suka? Kamu mau tahu pendapatku? Aku tidak suka seperti ini...tetapi aku suka dengan karya yang kamu kirimkan kepadaku. Terima kasih! Sungguh suatu kejutan yang tidak pernah aku pikir  sebelumnya, bahwa aku akan mendapatkan sebuah imel yang berisikan apa-apa yang sudah kamu tulis.

 

Eh kok jadi panjang yah..balesnya? elu anak mane sih? Tuhkan...jadi keluar aslinye...dapat imel ini dari siapa? Kirimin yang lain donk, maksud gua karya pablo yang lainnya...duit juga boleh sih..kalo elo kelebihan duit!hihihihihi...

 

Udah ah ngantuk gua....sampai ketemu di imel lu selanjutnya..masih mau koresponden? Besok kalo elu engga keberatan...kenapa engga elo kasih nomer telpon,atau setidaknya gua tahu elo ini ada dimana? Tapi terserah sih,...gua hanya kadang engga bisa ngikutin terus kalo caranye kayak gini. Fun memang, tapi itu untukmu!

Bukan untukku!

 

Salam juga,

Besok lagi jangan di imel ini kalo mo kirim imel yah? Udah engga enak alamat ini,... banyak yang ngerjain dengan ngirimin spam-spam!

 

Aku tidak minta menjadi segila empat tahun lampau, tidak dengan usia segini dengan emotional jugling seperti itu. tidak seperti ketika mengirimkan imel pengagum rahasia dengan puisi-puisi neruda yang dibalas dengan santunnya.

 

Hey Mr.Punk, bahagiakah kamu dan keluargamu? Benarkah kamu telah bergelar Respectable Art Worker di negara itu?

 

Mr.Punk, Mitosku yang tak kunjung pudar, bawalah pulang sedikit getaran  

 

Hey, kenapa lagi dengan kamu? Koq makin lama, kamu makin gelisah. Kegelisahanmu itu sangat mengganggumu ternyata. Aku mau bantu kamu mengurangi kegelisahanmu yang cenderung semakin liar dan ngawur! Aku berpikir kamu menikmati dengan cara ini, ternyata...engga juga yah! Padahal aku juga mau mulai untuk curhat! Setidaknya itu yang terpikir olehku satu hari ini.

Hey, aku engga tahu harus mulai dari mana. Tapi aku masih menyukai saat kamu mengirimkan puisi-puisi itu. Kenapa tidak kamu teruskan lagi? Mana karyamu sendiri? Asssiik loh kalo pakai karya sendiri..,

 

Aku juga sedang gelisah sebenarnya..tapi aku punya cara tersendiri untuk melampiaskannya! Aku sangat suka SEX! Iya...jujur aku akui, jika ada orang yang bertanya apa hobiku, akku akan jawab, SEX! Dengan tegas! Aku engga mau tahu apa pendapatmu,...tapi itu aku!

Kenapa sih dalam surat2mu yang kamu tonjolkan kesedihan hatimu yang selalu merasa kesepian? Itu yang kamu sirat loh! Apa ini berarti akan berakhir? Maksudku tulisanmu ini dan surat-suratmu ini?

 

Kamu kecewa sepertinya ya?....kenapa mesti kecewa? Kegelisahan adalah tanda bahwa kita hidup! Santai aja. Kalau kamu mau, kita bisa ketemu koq! Tapi kamu pasti tidak mau, karena kamu lebih menikmati dengan cara-cara seperti ini. Betul engga? Eh aku mau tanya, kamu melakukan ini kepada siapa aja? Apa ada orang selain diriku yang kamu kirimi hal yang sama?

 

Apa yang sudah aku berikan? Koq membuatmu hidup kembali? Memang kemarin kamu kenapa? Engga merasa hidup? Mati suri? Apa yang membuatmu “mati”?

 

Siapapun kamu, kita semua hidup hanya sekali. Kita nikmati dengan hal2 yang berguna. Setidaknya untuk diri kita. Cari kesenangan yang kamu mau,santai aja! Buat itu mengalir! Jangan kamu buat tambah sulit! Kalo kamu mau aku bisa menyenangkan kamu...asal yang akan aku lakukan itu (untuk membuatmu senang), aku juga senang. Sungguh!! Kan kita sahabat katanya! Atau lebih dari itu...

 

Tiduri saja kegelisahanmu itu...jika aku kegelisahanmu, kenapa kita tidak tidur saja? Dia akan semakin menjepit kamu, sampai manapun akan terus mengejar itu.

 

Sebetulnya malam ini aku mau menulis sesuatu untuk kamu. Sesuatu yang tidak sekasar tulisanku ini. Cuma bingung harus mulai dari mana.ini semua karena kegelisahanmu!

Bagaimana, mau kamu meniduri kegelisahanmu itu? Aku?

 

Punk

 

Begitu hidup, penuh tanda baca. dalam keseharian, penuh dengan bahasa tubuh.

Setahun kemarin, ketika tersiar kabar pernikahannya disana, begitu ngotot aku menghubunginya. International call. Mau memberikan ucapan selamat yang tulus, sungguhsungguh selamat. Walau kabar itu kudengar dari seorang kawan perempuan yang tibatiba teringat padanya karena tulisan di kaos yang kupakai. Tulisan yang sama dengan tato di perutnya. Punk, berapa banyak perempuan di kota ini yang pernah menjelajahi seluruh tatomu?


Posted at Tuesday, December 19, 2006 by litost
Comment (1)  

Thursday, December 14, 2006
investing,banking,...hiding?

Saya hampir memakai “persahabatan sebagai jalan hidup” sebagai klaim atas harihari belakangan, ketika tibatiba saja teringat pada satu episode sex n the city. Ketika itu Carrie kesal sekali pada kawankawannya, yang seolah olah baru keluar dari cangkang masingmasing dan memanfaatkan liburan bersama sebagai arena senangsenang pribadi. Ia ngotot dan berkata:

We’re not investing on friendship. We should work on it

 

Katakata itu kemudian balik menyerang dirinya kala sendiri dalam kemarahan.

Am i banking on my friends or hiding in this friendship?

 

Banking, investing, depositing, pilihan katanya. Sangat ekonomik, ada yang ditanam, ada beberapa konsekuensi potongan yang harus dilewati sambil sekaligus mengharapkan bunga keuntungan yang secara matematis pasti muncul.

Apakah saya bersembunyi dibalik kehidupan persahabatan yang saya pilih? Sementara phonebook berisi 599 kontak dan kesepian masih saja jadi penyakit kambuhan.


Posted at Thursday, December 14, 2006 by litost
Make a comment  

Tuesday, December 12, 2006
tentang elektra yang tak kunjung habisnya

baru saja, saya menuliskan katakata ini pada shoutbox sahabat yang mulai jarang kusapa:

elektra tidak hanya bicara tentang cinta seorang anak perempuan pada bapanya, ia sungguh leih besar dari itu, hasrat. di dalammu, ia menjelma menjadi dendam

bagaimana denganku? beberapa hari yang lalu, saya terbangun dalam pelukan seorang sahabat. ketika pagi itu saya bisa menikmati pagi sendiri di rumahnya karena ia yang sedang terburuburu, saya kembali merenungkan momen "bangun" itu. kenyamanan itu, lagilagi tak cumacuma.

seharian ini, momen yang sama kembali. bersama aji di motor, saya memijat punggungnya setiap kali kami berhenti di lampu merah. agenda hari ini adalah menemukan lemari display darurat dan kucingkucingan dengan hujan. dengan B, saya harus memegang rumbairumbai celana gobloknya, yang menurut dia celana ala desainer, supaya tidak masuk ke roda atau gear motor. Fe, selalu jadi tempat bersandar terakhir, pulang dari mana saja. tidur di punggungnya sambil berbicara ini itu yang disamarkan dengan istilah Quality talk. sering saya harus  berpegang erat di perut buncitnya,karena motornya yang serupa karapan sapi selalu melenceng dengan tak tahu diri.

bersama mereka semua, lagi dan lagi, mengapa hanya bayaran atas ketidakhadiran papi di sisisku?

dua sms keluar dari saya, yang pertama berbunyi: bagaimana ya keluar dari lingkarang elektra ini, tertuju untuk butar dan yang kedua berbunyi:kabar baik pi? kangen.


Posted at Tuesday, December 12, 2006 by litost
Make a comment  

Sunday, November 19, 2006
lingkaran kecilku

Un trou noir me dedans.

26/10/06//2.57am

 

Yang menjadi pahlawan bagi pagi adalah masa sunyi tak bertuan. Kosong, mengakali indra lainnya.

15/11/06//3.44am


Posted at Sunday, November 19, 2006 by litost
Make a comment  

Sunday, November 12, 2006
nukilan november

Heredera del tiempo

Dimana bisa mengistirahatkan pikiran yang menggelandang?

Kemana pergi si pewaris waktu?

 

25 almost 30.

Dalam kunjungan ke jakarta beberapa hari yang lalu, temanteman perempuan saya mengajak untuk ikut dalam proyek penulisan “almost 30”. Entah itu serius atau haya sempalan nakal dari rutinitas mereka (compare to them, my work is nothing), saya menolak, spontan.

Ketika sisa malam itu kemudian diisi oleh perbincanganperbincangan membosankan, saya akhirnya tergoda untuk memikirkan ide itu lebih dalam. Kenapa klaim itu harus muncul? Besarkah perbedaan yang kelak timbul? Tinggikah tngkat urgensinya? Hal apa yang harus diungkapkan oleh permpuan menjelang 30, kini? Lampu sorot semacam apa yang kemudian diharapkan dipakai orang ketika bertemu dengan perempun jenis ini? Atau jenis yang menjelang 30 ini?

Saya tidak mengikuti proses mereka, atau kegelisahan yang akhirnya melahirkan ide itu. Tapi ajakan itu yang akhirnya membuat saya berpikir lebih dalam tentang kondisi saya, yang perempuan, yang dalam lima tahun lagi akan mencapai usia 30 tahun.

Ketika masih berumur 20 tahun, saya berpikir untuk bergabung dalam club27, seperti Cobain, Dean dan semua legenda yang memutuskan untuk pergi di usia itu. Artinya, ada hal yang harus saya buat sebelum pergi. Terlalu pretensius memang, walau itu hanya akan jadi pemakluman agar “boleh” segera pergi. Tinggal 2 tahun ke depan, sepertinya saya memang belum berhasil membuat apapun.

Hal lain yang pernah saya rencanakan berkaitan dengan umur adalah menemukan rekan sejati, dan menikahinya. Dengan dia saya nantinya akan berbagi rumah, hal harian yang sepele, menyayangi  anjing kami, menikmati alkohol dan perbincangan panas, juga pemenuhan seks sesekali. Jika kami masingmasing sudah selesai dengan hubungan personal bersama pasangan masingmasing, mungkin bisa juga berpikir untuk mengadopsi anak. Emosi eros? Tidak. Sudah lama itu terkubur, bersama dengan semua drama dan empati. Ini pun sepertinya sulit, karena suami daruratku adalah bottom sejati.  

 

Judge me, Judge me not

“Don’t judge

Do i?

We all do! It’s our hobby. Some people do stamps, crafts, and arts. We do judge.”

 

Me too lazy to judge. Simply hate, said a friend

 

Jika bertemu dengan seseorang yang memenuhi puzzlemu adalah mitos, jalan keluarnya adalah berhenti memainkannya. Itu melawan Lacan.

 


Posted at Sunday, November 12, 2006 by litost
Make a comment  

Thursday, October 19, 2006
what's going on? who's asking?

Waktu berjalan mundur. Malam ini, 23.00 di kinoki. Penuh, anakanak nostalgia dan minum dan bernyanyi gantian. Sayang, sepertinya bukan ini yang aku mau. Tapi memang seperti itu kan? Things almost (always) go in another way you want....

Nuna datang. Aku mengenalinya segera. Kami berpelukan. Dia menciumiku habishabisan. Aku senyumsenyum saja. Ternyata segalanya sudah termaafkan. Dan terlupakan juga...

 

Sebelumnya, melihat bagian akhir Le grand Voyage. Bagian kesukaanku, saat Reda mencari bapaknya di ruang jenazah. Aku merasa perlu melihat itu lagi. Mungkin karena...

 

Jam 12.12 berkereta meninggalkan klaten. La Petite Fanny dimakamkan hari ini. Dia pergi kemarin, dalam usia 23 hari. Mas bambang, bapaknya, baru mendarat di Dubai 1,5 jam saat Fanny pergi. Fit, ibunya, teman sekampusku dulu, hari ini menjadi sangat pink. Bukan di baju atau aksesorisnya sebagaimana harihari yang lalu, tapi di wajahnya. Hidung dan pipinya. Fit putih sekali, juga sangat mencintai pink. Tapi aku yakin, jika siang ini dia berkaca, jika saja sempat, dia tak akan suka warna pink di wajahnya.  Fannynya telah pergi, tinggal Naura yang bersamanya. Fanny dan Naura lahir dengan berat badan 1,2kg dan 1,6 kg. Prematur pula. Mas bambang, tak sempat menggendong kedua putrinya itu. Keduanya tetap tinggal dalam inkubator.   

 

Kembali ke malam ini. Toto mengambil alih mic. Katakatanya adalah : lagu lama kinoki. Sempat sedikit panik : jangan No Alarm ya..  untung bukan.

Paman kikuk mengirim pesan genit di sms. Aku ingin segera kembali ke rumah untuk mewujudkannya. Tapi malam masih panjang.

 

Ada perempuan disebelahku yang terus menerus nyerocos dalam bahasa inggris pada lakilaki disebelahnya yang tampaknya lebih mengerti gestur daripada katakata yang nyembur itu.

 

Banyak bintang di kepalaku. Tapi bir pasti akan lebih manjur malam ini daripada vitamin otak keluaran dokter syaraf panti rapih.

What's going on?  Who's asking?

 

Sempat nyetor pingsan sebentar sore tadi, lumayan beberapa bulan ini baru terjadi lagi. Cimol bukan menu pilihan, tapi hanya itu yang bisa dilahap secara mandiri. Dia sudah tersedia disamping kasur.

 

Suntikan saja serum bungabunga seruni supaya malam tidak berhenti.

 

Tequilla for sunrise, AO for sunset. Bodhonk dan aku ngakak. Aku janda beranjing satu, bersanding dengan duda berkucing banyak. Dan botolbotol berserakan di sekitar kita. Awas! Jangan ada yang berani muntah di kolam kami. Sebenarnya, itu kolam atau tempat minum kuda buat si Lucky Luck? Atau kuda Teddy atau kuda Ugo?

 

Harus membajak Terre nyanyi Rumahku. Harus senang walau sedikit. Mungkin rencana menjadi Delilah dapat terwujud malam ini.

 

Bagaimana membaca tulisan ini?cangkokan dulu logika linearitasku dalamdalam.setelah itu, coba saja.

 

What's going on? Who's asking? 


Posted at Thursday, October 19, 2006 by litost
Make a comment  

Next Page